Yunik Ekowati

Namanya adalah Yunik Ekowati lahir 10 juni dia adalah si sulung dari empat bersaudara perempuan semua. Bapaknya seorang pensiunan dinas pariwisata Sragen, yang ...

Selengkapnya
MAKNA DI BALIK BUKU HARIAN

MAKNA DI BALIK BUKU HARIAN

Menulis adalah sesuatu kegiatan menggoreskan symbol, angka, huruf atau merangkai simbol-simbol tersebut, menjadi sebuah kalimat atau maksud-maksud tertentu. Bisa juga bermakna, mengabadikan segala sesuatu baik itu tentang peristiwa alam, kondisi emosional individu mapun dengan masyarakat sekitar, melalui bentuk tulisan, dengan tujuan mengabadikan kenangan atau dokumen yang dianggap penting.

Teringat, semasa duduk di bangku SMP, SMA kebiasaan yang sering tak terlupakan adalah menulis buku harian. Hampir setiap kejadian yang mengesankan, baik hal yang menyedihkan hingga yang mengesankan tak luput dari catatan harian. Mulai bangun pagi, sudah menjadi kebiasaan selalu melihat jadwal pribdi yang tertempel di meja belajar kamar. Di situ tertulis rapi urutan kegiatan atau jadwal, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Ternyata, pembiasaan yang di lakukan sedini mungkin dan dengan konsekwensi tinggi, akan membuahkan hasil yang luar biasa. Berawal dari cerita pengalaman pribadi guru saya semasa duduk di bangku SMP, beliau di sela-sela mengajar menceritaka pengalaman yang bisa membangkitkan semangat belajar siswa. Seperti, kebiasaan bangun pagi, belajar di waktu Subuh, membantu orang tua menyiapkan sarapan, sampai kegiatan belajar dan tidur malam.

Setelah selesai bercerita, guru tersebut memberi tugas pada kami untuk membuat jadwal kegiatan pribadi. Dengan semangat, pulang dari sekolah membuat jadwal yang di maksudkan tersebut. Dengan tulisan tangan sederhana, tetapi rajin di atas kertas bergaris merk Sidu kala itu. Tertempel rapi dan berlapis plastic bening, berharap tidak rusak ketika tertumpuk atau terkena benda cair yang bisa merusak kertas. Alangkah repotnya, diawal pelaksanaan jadwal yang di buat sendiri dan di lakukan sendiri harus sesuai dengan jam yang tercantum.

Di sana tertulisKAN, bangun pagi pukul 03.00 shalat tahajud belajar dan membaca buku pelajaran hari itu, pukul 05.00 shalat subuh, mempersiapkan sarapan bersih-bersih mandi, sarapan. Pukul 06.00 berangkat sekolah, perjalanan naik sepeda ontel empat puluh lima menit. Tepat pukul enam lebih empat puluh lima menit sampai di parkir sekolah. Pukul tujuh pagi sampai pukul setengah dua siang belajar di sekolahan, setengah dua siang perjalanan pulang ke rumah. Sampai di rumah pukul dua lebih empat puluh lima menut.

Di jadwal harian semasa SMP hingga SMA selalu dilakukan dengan senang hati, di awal memang sangat-sangat berat, rasa malas yang susah di hilangkan, rasa kantuk, hawa dingin menusuk kuli serta. Tetapi setelah berjalan tiga bulan berturut-turut, dengan penuh perjuangan melawan rasa malas dan kantuk, jika bangun di pagi buta, akhirnya semua menjadi hal yang biasa dan tidak memberatkan. Dapat di ambil kesimpulan, bahwa jika sesuatu yang baik, mengawali dengan rasa penuh semangat dan percaya diri, maka sesuatu atau kebiasaan yang baik tersebut, bisa diubah atau di perbaiki menjadi lebih baik lagi. Semua tergantung pada niat dari dalam diri sendiri, bukan karena orang lain.

Dear diary….kalimat ini yang selalu mengawali setiap tulisan buku harian di masa-masa duduk di bangku SMP-SMA. Bersampul kuning dan satu lagi bersampul hitam pemberian teman special waktu itu. Lembar demi lembar ku buka, kalimat demi kalimat ku baca secara seksama. Mulai dari kejadian sehari-hari di rumah. Berkaitan dengan orang tua, adik, saudara, tetangga, teman di sekolah, maupun teman bermain, tak luput dari tulisan di buku harian bersampul kuning kala itu.

Rasa geli, haru, lucu, baper dan seolah marasa seperti ABG lagi. Tiba-tiba perasaan itu kembali datang menghampiri, hanya senyum-senyum kecil, kadang tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai ibu yang mendengar menanyakan, ada apa kok sampai tertawa keras sekali. Tapi kadang merasa aneh. Kok bisa dulu menulis kalimat-kalimat seperti itu yaahhh….itulah yang namanya bahasa jiwa, yang di tuangkan dengan penuh rasa, keluarpun menghasilkan kalimat-kalimat yang biasa sangat mudah dipahami, karena memang bahasa yang digunakan sederhana dan penuh dengan aura keseharian.

Salah satunya adalah, di surat-surat yang pernah dikirimkan untuk temn-teman ataupun teman special waktu itu. Namanya juga ABG, cinta-cintaan, cinta monyet dan cinta beneran atau bohongan juga masih belum jelas. Yang terpenting jalani dan ikuti perasaan itu seperti aliran air mengalir di sungai. Kalimat yang sampai saat ini masih selalu teringat, dan membuat ku keki sendiri adalah “empat-kali empat enam belas, sempat gak sempat harus di balas” seketika tertawa terbahak-bahak, jika membaca kalimat itu, dan herannya hampir selalu ada pada kalimat surat untuk teman special.

Tata bahasa yang memang ala-ala anak muda jaman itu, terkesan jadul, polos, menggunakan bahasa keseharian, muncul secara spontanitas dan apa adanya. Tidak pernah muncul di benak ku, untuk apa aku sering menulis kejadian-kejadian yang di alami setiap saat. Yang ada hanyalah, hasrat ingin menulis saja dan jika suatu saat di baca kembali, saya bisa merasakan apa yang pernah ku alami saat itu. Serasa kembali di masa-masa indah, menyedihkan maupun mengharukan. Tidak ada maksud yang lain, persis kondisi yang tertuliskan pada setiap kalmat-kalimat di buku harian dan surat-surat cinta masa-masa ABG.

Setelah sekian lama, kurang lebih dua puluh enam tahun masa-masa gemar menulis buku harian sudah berlalu. Lima tahun yang lalu masih sempat membaca hasil tulisan buku tersebut, dan karena saking banyaknya berkas, termasuk buku-buku yang sudah di gudang tidak terpakai. Maka, setelah puas membaca dan bernostalgia dengan tulisan-tulisan di buku harian kala itu, langsung buku dan kertas-kertas, termasuk tumpukan surat dari sahabat, surat cinta harus di loakkan dan sebagian di bakar.

Yang masih tersisa adalah perangko dengan gambar motif unik, warna-warni mulai dari dalam negeri sampai luar negeri Malaysia. Wakyu itu belum ada social media,FB, BB, WA, email dan telepon rumahpun masih sangat jarang. Sehingga komunikasi dengan para sahabat, ya hanya dengan surat menyurat. Dikirim hari ini, lima hari atau satu minggu berikutnya baru nyampai balasannya. Apa lagi jika mengirim surat dengan sahabat yang di luar negeri, hampir satu bulan lebih surat balasannya baru datang.

Ada apa dengan tulisan-tulisan yang pernah di buat? Selama menulis kala itu, tidak pernah terbersit sedikitpun untuk menindak lantuji. Seperti halnya, untuk latihan menulis, membuat opini, karya ilmiah ataupun menerbitkan sebuah buku. Kebiasaan yang ternyata ada manfaatnya luar biasa ini, secara tidak langsung akan memudahkan kita dalam menulis opini, karya ilmiah ataupun menerbitkan sebuah buku. Semua proses yang telah kulalui itu, ternyata adalah tahap yang tidak bisa instan di lakukan.

Pengalaman menulis opini, dan dimuat oleh salah satu koran harian di jawa tengah adalah pengalaman yang luar biasa bahagia. Dan semakin menambah niat semangat, untuk belajar menulis lagi dengan tahap yang lebih. Mengikuti pelatihan menulis di Sagusabu Semarang, semakin memantapkan niat dan langkah untuk terus menulis buku. Satu judul buku perdana sudah mulai mengantre di tim editor. Semakin tertantang ingin menulis buku berikutnya, membayangkan saat-saat jatuh cinta.

Jatuh cinta, tidak hanya dengan lawan jenis. Dengan pekerjaan yang di senangi, merasa nyaman dan enjaoy menjalaninya. Melihat bunga dan kupu-kupu warna-warni, benda-benda yang membuat kita tertarik dan menggugah rasa ingin tahu yang lebih dalam, juga bisa dikatakan jatuh cinta. Ingin menekuni suatu hal atau kegiatan, yang menghasilkan suatu produk atau barang. Sehingga barang yang di hasilkan, bisa menghasilkan keuntungan, baik secara materi maupun kepuasan batiniah.

Banyak hal yang bisa membuat kita jatuh cinta. Menulis, menuangkan segala ide, pikiran dan daya imajinasi ke dalam bentuk goresan tulisan, dan mendatangkan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Manfaat bagi diri sendiri, maupun orang lain dan masyarakat lingkungan sekitarnya. Menyematkan tanda tangan, dalam sebuah baleho besar, pertanda pengikat janji untuk segera menyelesaikan naskah buku yang sedang di tuliskan. Adalah langkah awal, belajar berkomitmen terhadap sega sesuatu yang telah di lakukan dan harus dimulai dengan hati dan perasaan.

Berharap dengan sepenuh hati, naskah yang sedang dalam proses segera terwujud sebuah buku, dengan nama tersemat cantik di sudut halaman buku. Terbayanglah, ekspresi wajah bahagia penuh makna, akan sebuah kepuasan batin tersimpan jiwa. Ternyata memang tidak mudah dalam menulis, bukan masalah bisa dan tidak bisanya menuangkan ide, tetapi tergantung memanag waktu yang tepat dan cerdas.

Dengan segala kesibukan dan pekerjaan yang juga dituntut dateline, tidak hanya sekedar satu dua pekerjaan yang harus terselesaikan. Tetapi, banyak jenis hal dan pekerjaan kantor dan administrasi mengajar, yang juga menuntut terselesaikan sesegera mungkin. Inilah yang membuat kita, kadang terlena dan lupa mana yang terpenting mana yang kurang penting dan mana yang tidak penting. Sehingga, tak terasa waktu yang tersedia semakin lama, semakin mendekat dan akhirnya dateline sudah di depan mata.

Tiba saatnya, sering kali kita merasa kehilangan banyak waktu, ingin rasanya memutar kembali waktu dan keadaan, hal yang mustahil, hanya dalam cerita kartun Doraemonlah pemutaran waktu bisa terjadi. Mempunyai keinginan dan hasrat, memang tidak mudah. Berkhayal dan bermimpi itu wajar, tetapi proses untuk mewujudkan mimpi itulah yang sulit, butuh niat yang kuat, mental baja, disiplin tinggi dan ihktiar berdo’a tanpa batas.

Tuhan selalu mempunyai rencana yang lebih indah, dari yang kita inginkan, segala sesuatu, akan datang pada saatnya. Kalimat-kalimat itu, sebenarnya menyadarkan kita untuk selalu tetap berpegang teguh pada, niat awal dan usaha yang kita lakukan dan belum terlihat hasilnya. Hasil yang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Hasil pekerjaan atau usaha pastinya ada dua, yaitu; berhasil dan belum berhasi.

Disaat merasa belum berhasil, tentunya banyak orang yang patah semangat da nada juga ingin tetap berusaha. Melalui segala cara untuk menghasilkan yang di inginkannya. Ini baru bisa dikatakan pantang menyerah, tetapi ketika usahanya putus ditengah jalan atau mengalami kegagalan, dan menyerah begitu saja, tidak ingin meneruskan. Ini yang namanya menyerah, dan mungkin jika usahanya masih batas rata-rata bahkan bisa dikatakan kecil. Bisa saja di sebut usaha tersebut bermental krupuk, mudah menyerah.

Ternyata, kebiasaan bangun pagi yang dilakukan secara rutin, sangat membawa dampak positif. Berawal dari melaksanakan jadwal pribadi tersebut, hingga ssampai ekarang sangat membatu sekali dalam menyelesaikan segala tugas-tugas yang di lakukan sebagai ibu rumah tangga, sekaligus bekerja seharian di luar rumah. Apapun usaha dan hasilnya, akan lebih afdhol diiringi dengan berserah diri serta berdo’a mohon petunjuk dari Allah SAW. Selain membuat hati lebih adem, tenteram dan nyaman, dalam melangkahpun terasa ringan dan dimudahkan.

Ada pepatah mengatakan, “Bangun pagi, jangan sampai kedahuluan dengan ayam” ternyata sangat benar dan perlu di buktikan, mulailah bangun pagi sebelum ayam berkokok, awali pagimu dengan indah….selamat mencoba yaa

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali