Yunik Ekowati

Namanya adalah Yunik Ekowati lahir 10 juni dia adalah si sulung dari empat bersaudara perempuan semua. Bapaknya seorang pensiunan dinas pariwisata Sragen, yang ...

Selengkapnya
SEMBILAN BIDADARI TURUN DIALASKA

SEMBILAN BIDADARI TURUN DIALASKA

Sembilan bidadari turun dari kahyangan, aroma wangi semerbak membius semua insan, untaian bunga melati menjuntai dari ujung rambut hingga dada, kain jarik bermotif parang thitik putih, wiru samping membalut tubuh ramping semampai, berjalan anggun diantara para penonton yang berdecak kagum.

Latihan menari rutin di lakukan setiap hari jum’at setelah pulang sekolah, antara jam dua belas lebih lima belas sampai dengan pukul empat belas lebih tiga puluh menit, sekitar dua jam waktu untuk berlatih tari di ekstra tari Sekar Kedaton. Waktu yang lumayan lama tetapi bisa tidak terasa karena saking asiknya saat berlatih. Seperti yang di inginkan anak-anak bahwa menari Bedhaya menjadi impian mereka. Latihan berlangsung dari jumlah seluruh peserta ekstra tari tiga puluh anak, setelah mengalami penggemblengan dan latihan teknik gerak serta seleksi, di ambil Sembilan penari. Karena makna filosofi dalam tari Bedhaya jumlah penari harus Sembilan orang adalah, mempunyai makna sembilam wali, yang menyebar luaskan ajaran agama Islam di pulau Jawa, dari sumber lain ada yang menyebutkan bahwa ada sembilan lubang di dalam tubuh manusia, yang menyebabkan manusi bisa hidup secara normal.

Ke sembilan anak tersebut memang mempunyai kelebihan dalam teknik gerak, kecepatan dalam menerima materi, dan ketangguhan fisik serta mempunyai disiplin untuk berlatih yang luar biasa. Saat sedang berlatih ada salah satu anak tiba-tiba dating menghampiri ku saat di tengah istirahat berlangsung. Dia menyampaikan bahwa tadi saat latihan manari sedang berlangsung, melihat sosok bayangan perempuan berdiri di tengah dinding tembok mengamati anak-anak yang sedang menari. Langsung aku terhenyak, jujur rasa takut dan bingung menyelinap. Tetapi aku berusaha tenang di depan anak-anak, dan mengatakan bahwa semua makhluk ciptaan Tuhan itu mempunyai hak untuk beraktifitas. Salah satunya, ya kadang menampakkan diri untuk di akui keberadaannya di depan makhluk lainnya.

Jadi tidak usah khawatir, selama kita tidak mengganggu mereka, dan mengakui keberadaannya, pastinya mereka juga tidak akan mengganggu kita. Bersikap tetap tenang, seolah-olah tidak terjadi apapun serta waspada dan hanya percaya kepada Allah SWA, mohon perlindungan dan petunjuknya. Kita melakukan kegiatan yang bertujuan melestarikan kebudayaan dan berkreativitas saja, tidak lebih. Dengan penuh rasa kebersamaan dan melindungi anak-anak, ku coba untuk memberi motivasi dan meyakinkan mereka. Untuk tetap tenang dan selalu mengawali kegiatan ini dengan membaca "basmalah" bagi yang muslim, yang non muslim mengikuti sesuai kepercayaannya masing-masing.

Anak-anak kembali tenang dan tetap berlatih dengan semangat, karena waktu pementasan sudah semakin dekat. Tiga hari sebelumnya, aku selalu berpesan pada ke sembilan penari, yaitu untuk ngusakan shalat Tahjud, tiap malam mohon keselamatan dan kelancaran dalam pementasan tari nanti. Menjelang hari H-satu para penari Sembilan anak tadi, sibuk mempersiapkan diri, mulai dari meronce bunga melati, membuat roncean bunga kamboja dan beberapa dedaunan untuk hiasan pada kain jarik yang dikenakan atau dodotan.

Menjelang isya’ para calon penari menyelesaikan mempersiapkan uborampe, tiba saatnya harus kembali pulang, dan istirahat mempersiapkan kondisi fisik untuk bangun pagi-pagi. Mempersiapkan rias ke sembilan penari Bedhaya Suminaring Glagahwangi dengan tata rias Dodhot Putri Basahan, bukanlah pekerjaan yang mudah. Butuh persiapan rumit dan nritik/jlimet (banyak ubo rampe/perlengkapan yang harus di persiapkan secara matang).

Adapun isi sinopsis yang terkandung didalam tari Bedhaya Suminaring Glagahwangi dari Demak ini antara lain; mengisahkan tentang perjuangan para wanitaatau gadis-gadis Demak, yang ikut serta dalam perjuangan membela Negara, dari para penjajah. Dengan tetap memegang teguh syariah agama Islam, para wanita tersebut ikut serta mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Senjata cundrik adalah yang di kenakan dalam property tari tersebut.

Balutan kain jarik motif parang tithik putuh, di lapisi kain transparan warna hijau pupus, mengenakan mahkota kecil bak putri keratin, hiasan bunga melati berjumlah Sembilan menjuntai hingga ke dada, tersematkan Cundrik (sejenis keris kecil, khusus di kenakan oleh kaum bangsawan wanita untuk senjata membela diri) di depan perut menyilang ke sebelah kiri. Dengan posisi tangan kanan miwir kain jari ke samping kanan, tangan kiri posisi ngrayung menyiku menyentuh depan perut, pandangan lurus kedepan dan melangkah anggun perlahan mengikuti iringan kethuk kempyang.

Begitu music gamelan terdengar, seketika suasana hening seluruh mata memandang kea rah para penari yang berdiri siap melangkah dari mimbar yang biasa Pembina upacara berdiri. Sembilan bidadari turun dari kahyangan, aroma wangi semerbak membius semua insan, untaian bunga melati menjuntai dari ujung rambut hingga dada, kain jarik bermotif parang thitik putih wiru samping kanan membalut tubuh ramping semampai, berjalan anggun diantara para penonton yang berdecak kagum. Acara perpisahan kelas dua belas yang rutin diadakan setiap tahunnya, mengundang para wali murid, pejabat daerah setempat dan beberapa tamu undangan serta seluruh siswa kelas dua belas yang di wisuda.

Semua mata memandang tak berkedip pada sembilan bidadari, liukan tubuh lemah gemulai, lentinya jari-jemari dan tatapan anggun serta senyuman penuh makna membius penonton. Susana penonton sangat antusias, ada yang nyeletub melontarkan kalimat “nyi roro kidul mudun….”(nyi roro kidul turun) dan kalimat-kalimat lainnya yang intinya mengagumi kecantikan dan keanggunan para penari.

Di ujung tarian, para penari memberi hormat kepada seluruh penonton dan berjalan menghampiri para tamu undangan yang duduk di deret paling depan, kemudian bersalaman dan mencium tangan para tamu undangan tersebut. Tak jarang langsung banyak yang meminta foto, langsung tepuk tangan terdengar bergemuru di sahut dengan kalimat-kalimat pujian. Sungguh pemandangan yang sulit ku ungkapkan, melihat para penari ku menjadi idola saat itu. Dari sudut panggung agak jauh ku amati semua kejadian itu, tak terasa cairan bening mentes dari sudut mata ku, dan tak lupa ku ucapkan alkhamdulillah pada Yang Kuasa.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali